Luka Modrić kembali membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap menjadi pemain kunci Kroasia. Dalam laga pemanasan terakhir sebelum Piala Dunia 2026, Kroasia menang 2-1 atas Slovenia. Modrić membuka skor pada menit ke-51 lewat tembakan terukur, sebelum Slovenia menyamakan kedudukan dan Mario Pašalić memastikan kemenangan Kroasia di masa injury time. Gol itu menjadi gol ke-29 Modrić dari 198 penampilan internasional.
Yang membuat momen ini semakin emosional, laga tersebut disebut kemungkinan menjadi penampilan kandang terakhir Modrić bersama timnas Kroasia. Meski sudah berusia 40 tahun dan baru pulih dari cedera tulang pipi, ia tetap tampil sebagai pengatur ritme permainan, pemimpin di lapangan, sekaligus simbol generasi emas Kroasia.
Namun kemenangan ini juga memberi catatan penting. Kroasia masih terlihat belum sepenuhnya stabil, terutama dalam transisi bertahan dan penyelesaian serangan. Slovenia beberapa kali menciptakan peluang berbahaya, sementara gol penyama kedudukan mereka lahir dari kesalahan lini belakang Kroasia. Artinya, meski Modrić masih menjadi pembeda, Kroasia tidak bisa hanya bergantung pada magis sang kapten.
Tantangan besar sudah menunggu. Kroasia akan membuka perjalanan di Piala Dunia 2026 melawan Inggris di Dallas. Pelatih Zlatko Dalić bahkan mengakui laga pertama itu sangat krusial karena hasil buruk di awal turnamen bisa merusak momentum tim. Dengan kondisi beberapa pemain kunci baru pulih, pengalaman Modrić akan menjadi faktor penting untuk menjaga mental dan struktur permainan Kroasia.
Kesimpulan
Modrić mungkin sudah tidak muda lagi, tetapi pengaruhnya untuk Kroasia masih sangat besar. Ia bukan hanya pemain tengah biasa, melainkan pemimpin, pengatur tempo, dan wajah dari semangat Kroasia yang selalu sulit diremehkan di turnamen besar. Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung terakhirnya bersama Vatreni, dan sejauh ini Modrić masih menunjukkan bahwa ia belum selesai.