Kapten yang juga gelandang tim nasional Uruguay Federico Valverde sangat sedih dan menundukan kepala nya
Uruguay harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan cara yang pahit. Tim berjuluk La Celeste resmi tersingkir dari Grup H setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada laga terakhir fase grup. Hasil tersebut membuat Uruguay hanya mengoleksi dua poin dari tiga pertandingan, tanpa satu pun kemenangan. Reuters menyebut perjalanan Uruguay kali ini berakhir dengan kegagalan, friksi, dan tanpa kemenangan.
Kekalahan dari Spanyol menjadi pukulan terakhir bagi Uruguay. Dalam pertandingan penentuan itu, Uruguay sebenarnya masih memiliki peluang untuk menjaga harapan lolos, tetapi mereka gagal memaksimalkan momen penting. Spanyol tampil lebih tenang dan akhirnya menang lewat gol Álex Baena. Reuters melaporkan kemenangan 1-0 tersebut membawa Spanyol lolos ke fase gugur, sekaligus memastikan Uruguay tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Perjalanan Uruguay di Grup H memang sudah bermasalah sejak laga pertama. Mereka hanya bermain imbang 1-1 melawan Arab Saudi. Hasil itu awalnya masih bisa dianggap sebagai batu sandungan kecil, tetapi menjadi mahal ketika Uruguay kembali gagal menang di laga kedua. Menghadapi Tanjung Verde, Uruguay sempat berbalik unggul 2-1 sebelum akhirnya kebobolan lagi dan harus puas bermain imbang 2-2. Reuters mencatat Tanjung Verde memberi perlawanan berani dan mampu menahan Uruguay dalam laga yang berjalan terbuka.
Hasil imbang melawan Tanjung Verde menjadi titik krusial. Uruguay kehilangan dua poin penting dalam pertandingan yang seharusnya bisa mereka menangkan. Dalam format Piala Dunia 2026, posisi ketiga memang masih bisa membuka peluang lolos ke babak 32 besar. Namun hanya delapan tim peringkat tiga terbaik dari total 12 grup yang bisa lolos, sehingga jumlah poin menjadi sangat menentukan. FIFA menjelaskan format 2026 memakai 12 grup berisi empat tim, dengan jalur lolos melalui dua besar grup dan peringkat tiga terbaik.

Masalah Uruguay adalah mereka hanya memiliki dua poin. Angka itu terlalu rendah untuk bersaing dengan peringkat tiga dari grup lain. Beberapa tim peringkat ketiga lain mampu mengumpulkan tiga atau empat poin, sehingga posisi Uruguay tidak cukup kuat. Jadi, Uruguay bukan tersingkir karena tidak ada jalur untuk peringkat ketiga, tetapi karena performa mereka tidak cukup bagus untuk masuk delapan besar peringkat tiga terbaik.
Secara klasemen, Grup H berakhir dengan Spanyol sebagai pemuncak grup, Tanjung Verde berada di posisi kedua, Uruguay di posisi ketiga, dan Arab Saudi di posisi keempat. Tanjung Verde menjadi cerita besar karena mampu lolos sebagai runner-up meski datang sebagai tim yang tidak terlalu diunggulkan. Sementara itu, Uruguay justru gagal memanfaatkan pengalaman dan nama besar mereka di turnamen sebesar Piala Dunia.
Kegagalan Uruguay juga terasa mengejutkan karena mereka datang dengan skuad yang masih memiliki banyak nama berkualitas. Federico Valverde, Darwin Núñez, Ronald Araújo, hingga pemain-pemain berpengalaman seharusnya bisa menjadi fondasi kuat. Namun di lapangan, Uruguay tidak tampil cukup tajam. Mereka mampu menciptakan momen, tetapi tidak konsisten dalam menyelesaikan peluang dan terlalu mudah kehilangan kendali ketika pertandingan memasuki fase penting.
Lini depan Uruguay menjadi salah satu sorotan utama. Dalam tiga pertandingan, mereka hanya mencetak tiga gol. Dua gol datang saat menghadapi Tanjung Verde, tetapi itu pun tidak cukup untuk menghasilkan kemenangan. Ketika melawan Spanyol, Uruguay gagal mencetak gol dalam laga yang paling menentukan. Ini menunjukkan bahwa masalah terbesar mereka bukan hanya pertahanan, tetapi juga efektivitas serangan.
Dari sisi mental, Uruguay juga terlihat semakin terbebani setelah dua hasil imbang awal. Tekanan besar menghadapi Spanyol membuat permainan mereka tidak sepenuhnya lepas. Mereka membutuhkan kemenangan atau setidaknya hasil yang bisa menjaga peluang, tetapi justru kebobolan dan gagal membalas. Dalam turnamen besar, kesalahan kecil seperti ini langsung berakibat fatal.
Kegagalan Uruguay juga menjadi tamparan besar untuk Marcelo Bielsa. Pelatih asal Argentina itu dikenal dengan gaya bermain agresif, intens, dan menuntut energi tinggi. Namun di Piala Dunia 2026, pendekatan tersebut tidak menghasilkan kemenangan. Uruguay terlihat punya intensitas, tetapi tidak cukup rapi dalam mengelola pertandingan. Reuters menggambarkan akhir perjalanan Uruguay sebagai kampanye yang penuh kegagalan dan tanpa kemenangan.
Bagi publik Uruguay, tersingkir di fase grup tentu menjadi kekecewaan besar. Uruguay memiliki sejarah panjang di Piala Dunia dan dikenal sebagai salah satu negara dengan tradisi sepak bola kuat. Karena itu, pulang tanpa kemenangan dari grup yang dihuni Spanyol, Tanjung Verde, dan Arab Saudi menjadi hasil yang sulit diterima.
Kesimpulannya, Uruguay tersingkir dari Piala Dunia 2026 karena gagal menang dalam tiga laga fase grup. Dua hasil imbang melawan Arab Saudi dan Tanjung Verde tidak cukup menjadi modal, lalu kekalahan 0-1 dari Spanyol mengakhiri perjalanan mereka. Dengan hanya dua poin, Uruguay kalah bersaing dalam perebutan tiket peringkat tiga terbaik. La Celeste pulang lebih cepat, sementara Spanyol dan Tanjung Verde melanjutkan langkah ke fase gugur.
Sosial Media Kami
Facebook: Seputaran BOLA Vegasgg