Persija Jakarta resmi memulai babak baru setelah menunjuk Shin Tae-yong sebagai pelatih untuk menghadapi musim 2026/27. Penunjukan ini bukan sekadar pergantian pelatih biasa, karena STY datang dengan reputasi besar, pengalaman internasional, dan hubungan emosional yang kuat dengan sepak bola Indonesia setelah sebelumnya menangani Timnas Indonesia selama lima tahun. ILeague mencatat Shin Tae-yong dikontrak Persija dengan durasi tiga tahun.
Kehadiran Shin Tae-yong langsung membuat atmosfer Liga Indonesia terasa lebih panas. Persija bukan hanya mendatangkan pelatih populer, tetapi juga sosok yang punya standar tinggi dalam disiplin, fisik, taktik, dan mental bertanding. Presiden Persija, Mohamad Prapanca, menyebut STY dipilih karena kompetensi, pengalaman, visi, serta kemampuan membangun mentalitas pemenang.
Persija ingin naik level

Musim sebelumnya, Persija sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Di bawah Mauricio Souza, Macan Kemayoran mencatat 71 poin dengan 22 kemenangan, lima imbang, dan tujuh kekalahan. Namun, kontraknya tidak diperpanjang karena target awal klub tidak tercapai.
Artinya, kedatangan STY membawa pesan jelas: Persija ingin lebih dari sekadar tampil kompetitif. Mereka ingin kembali menjadi kandidat kuat juara. Dengan basis suporter besar, sejarah panjang, dan tekanan tinggi dari Jakmania, STY akan langsung berada di bawah sorotan sejak awal musim.
Gaya bermain: lebih agresif dan menyerang
Salah satu hal paling menarik adalah arah permainan Persija di bawah Shin Tae-yong. STY menyatakan bahwa filosofi dasarnya adalah sepak bola menyerang. Saat menangani Timnas Indonesia, ia sering bermain lebih pragmatis karena lawan yang dihadapi punya kualitas lebih tinggi. Namun di Persija, situasinya berbeda. Ia punya peluang membangun tim yang lebih dominan, cepat, agresif, dan berani mengambil inisiatif.
Tapi ada catatan penting: gaya bermain menyerang STY sangat bergantung pada komposisi skuad. Ia sendiri menyinggung pentingnya diskusi dengan manajemen soal kebutuhan pemain, terutama pemain asing berkualitas, agar Persija bisa memainkan sepak bola cepat dan kuat.
Kabar baik untuk pemain muda Persija
Selain soal taktik, kedatangan Shin Tae-yong juga menarik karena cocok dengan arah pembinaan Persija. Persija dikenal cukup aktif memberi ruang kepada pemain muda. ILeague mencatat pada musim 2025/26, ada lima pemain muda Persija yang mendapat kesempatan tampil di kasta tertinggi, yaitu Arlyansyah Abdulmanan, Jehan Pahlevi, Figo Dennis, Dia Syayid, dan Hafizh Rizkianur. Dalam lima musim terakhir, 23 pemain jebolan EPA Persija juga sudah menjalani debut profesional bersama tim utama.
Ini bisa menjadi kombinasi berbahaya. STY punya rekam jejak memberi panggung kepada pemain muda, sementara Persija punya akademi yang kuat. Bahkan Persija kembali dinobatkan sebagai Best Academy EPA Super League 2025/2026, dengan Persija U-20 juga meraih gelar juara.
Tantangan terbesar STY di Persija
Meski kedatangannya disambut besar, tugas STY tidak mudah. Ada tiga tantangan utama:
Pertama, ekspektasi Jakmania sangat tinggi. Nama besar STY otomatis membuat tuntutan prestasi meningkat.
Kedua, adaptasi dari level timnas ke klub. Di klub, ritme kerja berbeda: transfer pemain, rotasi kompetisi, tekanan mingguan, dan kebutuhan hasil cepat jauh lebih intens.
Ketiga, kualitas skuad harus sesuai kebutuhan taktik. Kalau Persija ingin bermain cepat dan menyerang, manajemen harus memberi dukungan di bursa transfer.